• This is slide 1 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 2 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 3 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 4 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.
  • This is slide 5 description. Go to Edit HTML of your blogger blog. Find these sentences. You can replace these sentences with your own words.

Minggu, 02 Desember 2012

ANTOLOGI-ANTOLOGI CERPEN HORROR DAN ANTOLOGI PUISI KARYAKU







TELAH TERBIT!

Judul Buku : ANTARA MIMPI DAN NYATA
(Kumpulan Cerpen Horror)
Penulis : Ariny NH and Friends
Penerbit : Puput Happy Publishing
Cetakan : Cetakan Pertama, November 2012
Isi : ii + 160 Halaman; 13x19 cm.
ISBN : 978-602-7806-08-5
Harga : Rp 41.580,-

Sinopsis:

“Di mana ini?” tanyaku bingung. Aku memperhatikan sekelilingku, tempat yang tak kukenal. Tempat yang asing. Dan entah kenapa tubuhku seolah tak bisa kuatur seperti biasa. Hatiku sadar, tapi tubuhku seolah terhipnotis sesuatu. Dari arah sebelah kanan muncul seorang gadis berparas ayu. Dia menghampiriku dengan heran. Ditepuknya bahuku pelan.
“Kamu yang memanggil aku ya? Kamu siapa?” tanya gadis itu. Aku menoleh dan menatapnya tajam. Tanganku bergerak secara spontan ke arah leher gadis itu. Dengan cepat tanganku mencekik lehernya tanpa ampun. Gadis itu kaget dan tidak bisa melarikan diri.
“Ukkhhh ….” Suara rintihannya tak kuhiraukan. Aku terus mencekiknya sampai akhirnya dia tak berdaya lagi. Gadis malang itu mati mengenaskan di tanganku. Aku menyeringai senang. Dan hatiku berontak tak tahan. Bukan, ini bukan aku. Bukan aku yang membunuhnya. Aku terus berteriak tapi tak ada yang mendengarkan. Dan .…
Brughh …! Aku terjatuh dari tempat tidur. Dengan bingung kupandangi sekelilingku. Keringat membanjiri tubuhku. Napasku tak beraturan, Ini kamarku, tak ada gadis itu, tak ada mayat yang kubunuh dengan tanganku. Aku menatap kedua tanganku tak percaya.
“Yang tadi itu apa?” aku bergumam pelan, bingung.
Pagi yang cerah, walau tak secerah hatiku. Entah kenapa aku masih memikirkan mimpiku tadi malam. Aku merasa itu seperti bukan mimpi, seperti nyata. Tapi siapa gadis itu? Aku sendiri tak mengenal wajah gadis itu. Aku bergidik ngeri. Semoga saja itu semua hanya mimpi.
“Hai, Myra. Wajah kamu kok pucat?” sapa seorang teman kostku, Riana. Aku menoleh lemas dan menggeleng perlahan.
“Aku tak apa-apa, Na. Mungkin cuma kecapekan.” Aku mencoba bersikap wajar. Riana mengangguk mengerti. Dia meraih remote televisi dan muncullah sebuah berita di salah satu channel. Berita pembunuhan. Aku duduk di sebelah Riana dengan wajah bingung. Aneh sekali, pagi-pagi bukannya disajikan berita yang segar, malah berita pembunuhan yang disajikan. Dalam berita itu muncul seraut wajah yang kukenal. Aku mengerjap-ngerjapkan mataku tak percaya.
Wajah itu. Bukankah itu gadis yang tadi malam dalam mimpiku? Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? kataku dalam hati, bingung.
Ada apa yang sebenarnya terjadi pada diri Myra? Siapa gadis yang ada dalam mimpi Myra? Temukan jawabannya dalam buku ini! Ada 15 cerpen horor terdapat di buku ini. Cerpen horor yang bisa membuat kulit merinding.

Info Buku: http://puputhappy-publishing.blogspot.com/2012/11/antara-mimpi-dan-nyata.html
NB: Buku sudah bisa dipesan via inbox FB Futicha Turisqoh II atau SMS ke 085642560633.


















Death Symbol, sebuah antologi horror yang menceritakan tentang cara kematian yang berbeda-beda dan memacu adrenalin. Cocok bagi pecinta horror sejati. Kalau mau beli buku ini, bisa lewat online juga lho... Caranya, bagi yang serius mau beli, inbox ke aku alamat lengkap kalian plus no hape. Ntar dikasih tau no rekening yang harus ditransfer untuk pembayaran. Harga buku ini Rp 28.500,-
Murah kan? Jangan lupa ongkos kirimnya yaaa, hehehe... bagi yang mau beli langsung silahkan ke Gramedia terdekat. Sudah tersedia kok ^^

Bagi para kontributor DS, hayukkk promosi lagi. Biar DS kembali dicetak. Salam karya! :)








TELAH TERBIT!
Judul Buku :kumpulan puisi EMOSI MANUSIA.
Terdiri dari 45 kontributor. terdiri dari 20 penulis senior, sisanya penulis pemula.
Penulis: Ariny NH and group Pecinta puisi
tebal: 110 hal
...
Harga: Rp.26.000,- (lum ongkir) kontributor discon 10%
Kontributor diwajibkan mempromosikan bukunya!
pesen di Penerbit Soega atau sms gue deh 085654910277


 Judul: Selayang Mimpi
Kategori: Sastra
ISBN: -
Penulis: Ariny NH and Puisi Lovers
Penerbit: Diandracreative
Tanggal Terbit: 2012-12-19
Jumlah Halaman: 196
Berat Buku: 200 gr
Kertas: HVS; 70 gram
Harga: Rp. 35.000,00 Dah masuk discon tapi belum ongkir
pesan di inboxku ya? ketik selayang mimpi-nama-alamat.







Telah terbit! Antologi cerpen duet "Antara Aku dan Dia". Yuk, diorder...!

Judul : Antara Aku dan Dia

Pengarang : Muhammad Dede Firman – Nira Kunea, dkk

Ukuran : 14 cm x 20 cm
Tebal  : vi + 166 hlm
Harga : 40.000

CARA PEMESANAN :

Ketik: DUET # NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP

Kirim ke : 082333535560

Jika kontributor, tambahkan kontributor # judul naskah
Nanti Anda akan mendapatkan SMS No.Rek dan jumlah yang harus dibayarkan.

SINOPSIS :

Nea

Ya. Aku menyukainya. Lelaki yang bernama Andy itu. Bukan karena dia tampan, ataupun kaya, tetapi lebih kepada chemistry yang aku rasakan ketika aku berada di dekatnya. Seharusnya, dia tahu kalau aku menyukainya.
Lewat pertanda yang kuberikan padanya.
Caraku menatapnya. Caraku berbicara padanya.
Memang, aku sering bersikap lain kepada orang yang aku suka. Bukan jaim, tapi sepertinya memang lebih kepada salting. Jantungku bisa tiba-tiba berdebar keras sekali saat berada di sampingnya. Ada rasa yang bergelenyar hangat di dalam hati. Rasa yang membuatku nyaman.
Namun, ada satu hal yang belakangan baru aku sadari. Dia ternyata masih memanggilku kakak.
***
Andy

Kakak.

Entah mengapa, ada yang sedikit janggal dengan kata itu. Mungkin, aku menganggapnya begitu karena aku terlalu ingin menambahkan embel-embel ‘sayang’ di belakangnya.

Kakakku sayang.

Ah, seandainya itu bisa jadi nyata. Aku tidak tahu apakah dia juga suka padaku atau tidak. Memang, sebagai seorang laki-laki, aku terlalu pengecut untuk menyatakan cinta terlebih dahulu.
Aku takut kalau dia tidak menerimaku.

Sebagai seorang laki-laki, aku tergolong orang yang sulit untuk memberi pertanda kalau aku suka padanya. Selama ini, aku hanya bisa tersenyum saat bertemu dengannya. Merasakan nikmatnya debaran di jantungku saat aku bersamanya.
Mengiriminya pesan.
Memberinya perhatian ….
Tapi, apakah itu sudah cukup untuk memberinya pertanda, kalau aku suka dengannya?


Bagaimana kalau sebuah cerpen ditulis oleh dua orang? Sulit gak sih? Bagaimana hasilnya? Baca buku ini dan lihat karya-karya mereka. ^^,


Selasa, 19 Juni 2012

MY PUISI

MISTERI DALAM KATA

Misteri mengundang penasaran yang tak terjawab
Ah, misteri itu ajaib
Misteri itu aneh
Bahkan hati juga penuh misteri
Mulut tak mampu menerjemahkan dalam kata
Kau juga penuh misteri
Membuatku penasaran
Membuatku jatuh dalam lumpur cinta
Betapa nista, tapi ini bukan dusta
Kau membuatku ingin tahu
Lebih ingin tahu lagi tentang dirimu
Tapi rasa ini kini kau hempaskan begitu saja
Hancur semua
Retak berkeping-keping
Yang tinggal hanya untaian embun yang mengalir tertahan pada kelopak ini
Misteri
Sulit untuk dipecahkan
Profesor bahkan tak mampu pecahkan
Apalagi diri yang lugu ini
Misteri hati, misteri jiwa, dan misteri cinta
Sulit dicerna dan dipahami


Jumat, 15 Juni 2012

MY PUISI

MALAM GILA

 

Ah, malam menggila
Rasa ini semakin mencekikku dan membelitku
Aku tak kuasa menghempaskannya
Apa aku boleh berharap
Apa aku berhak untuk itu
Ah, sungguh menyebalkan
Aku cuma bisa merasakannya dalam diam
Aku cuma bisa merindu dalam hati
Aku terpuruk
Lagi dan lagi
Ingin aku memeluk malam
Ingin aku berdansa dalam alunan melodi hati
Entahlah, hanya waktu yang bisa menjawab kegelisahan ini

 

Sidoarjo, 15-06-2012

Rabu, 13 Juni 2012

MY PUISI

DAN RASA INI

Dan semua menghilang
Lenyap bagai debu tertiup angin
Hati resah tak menentu
Ah, rasa ini seakan mencekikku
Rasa ini membuatku gila
Rasa ini semakin tumbuh dan berkembang
Tuhan, apa ini
Aku bagai pungguk merindukan bulan
Aku bagai bayangan yang sembunyi dibalik kelamnya malam
Rindu yang merongrong hati
Membuatku hilang kendali
Ingin aku musnahkan, tapi tak bisa
Aku hanya bisa mengikuti jalan takdir
Kemana aliran takdir ini membawaku
Biarkan ini mengalir seperti air yang mengalir

Sidoarjo, 13-06-2012

Kamis, 24 Mei 2012

MY CERPEN 3 (SPONTAN)



ALWAYS IN MY HEART


Reisya menatap keluar jendela. Matanya seolah terpaku pada sosok seorang laki-laki  yang  lewat depan rumahnya. Entah kenapa dia mulai merasakan deja-vu. Sepertinya dia mengenal laki-laki itu, tapi dimana. Sialnya dia tak ingat sama sekali, hatinya terus berucap kalau wajah itu tak asing lagi. Laki-laki misterius yang hanya bisa ditatapnya dari jendela kamarnya.

Angin sepoi-sepoi mempermainkan anak rambutnya. Berkali-kali rambutnya menampar-nampar pipinya, tapi tak dipedulikannya. Pandangannya hanya tertuju pada satu titik. Laki-laki itu. Samar-samar ingatannya tentang laki-laki itu mulai kembali. Dia ingat wajah itu, wajah yang selalu tersimpan dalam hatinya sampai saat ini. Dia merutuk dirinya sendiri, kenapa bisa melupakan wajah orang yang dicintainya. Ini semua karena kanker otak yang dideritanya. Semua ingatannya selalu kabur dan tak menentu.

 “Kenapa tidak kau sapa dia? Keluarlah.Dan ajaklah mengobrol,” ucap sosok di sampingnya. Rheisya tersentak kaget, ternyata Amora, peri kecil yang selalu menemaninya.

 Reisya menghela nafas. Andaikan dia memiliki keberanian untuk menyapanya. Sekedar untuk mengenalnya lebih dekat, tentu dia tak akan terbebani seperti ini. Amora ikut merasakan kesedihan gadis di sampingnya itu. Ingin sekali dia membantu Reisya, tapi apa daya tanpa kekuatannya. Ratu peri telah menghukumnya, sehingga dia tak bisa lagi memakai kekuatannya lagi. Amora tak berdaya, di saat seperti ini dia merasa tak berguna. Dia sangat menyesal karena tak bisa membantu apapun.

 Amora sangat menyayangi Reisya, seorang gadis yang lembut dan baik. Tapi sayangnya umur yang tinggal sedikit membuat gadis itu jadi murung dan selalu menyepi. Leukimia dan kanker otak, dua penyakit yang telah merampas senyum manis dari bibir Reisya. Dan karena penyakit ini, Reisya yang ceria mulai menjadi murung. Andai dia masih memiliki kekuatan itu, dia pasti bisa menolong gadis yang dilindunginya ini. Sebagai peri pelindung, dia merasa gagal melaksanakan tugas yang merupakan kewajibannya.

          “Amora,” panggil Reisya pelan. Amora menoleh dan dilihatnya wajah sedih Reisya, “Aku meminta satu hal. Apa kau bisa mengabulkan permintaanku?” lanjut Reisya sendu. Amora mengangguk perlahan.

          “Apa yang kau minta?” tanya Amora. Dia mengepak-ngepakkan sayapnya mendekat. Reisya tersenyum, dan dengan tangannya yang lemah, dia menunjuk ke arah laki-laki misterius yang selalu dipandangnya.

           “Apa kau bisa menyampaikan salamku ke dia? Dan tanyakan ke dia, apa dia mengenal seorang gadis yang bernama Reisya Pradipta? Apa dia masih mengingat tentang diriku?” Amora menatap tak mengerti maksud kata-kata Reisya.

            “Kenapa tak kau sapa sendiri?” tanya Amora. Reisya tersenyum lemah. Dia menggelengkan kepalanya.

            “Tidak akan sempat, Amora. Aku merasa ajalku sudah cukup dekat. Aku ingin mengukir namanya dalam hatiku. Cintaku padanya tak akan hilang sampai kapanpun, Amora. Apa kau ingin mendengar ceritaku tentangnya?”

"Kapanpun akan selalu aku dengarkan,” kata Amora sambil tersenyum.

       Reisya termenung, mencoba mengumpulkan kenangan satu-persatu. Matanya menjadi teduh tatkala mengingat masa-masa itu. Dia menoleh dan tersenyum pada Amora.

            “Kau tak akan menduga, Amora. Laki-laki itu adalah cinta pertamaku. Arfian namanya. Sangat sempurna bukan? Dia sosok yang paling dikagumi di sekolah. Aku yang gadis biasa-biasa saja tak berani bermimpi menjadi kekasihnya. Sedikitpun tak pernah terfikir olehku. Sampai suatu hari Arfian menyatakan perasaannya kepadaku. Bisa kau bayangkan Amora. Aku yang gadis biasa diminta jadi kekasihnya. Ah, saat itu adalah saat yang paling indah bagiku. Kebahagiaan datang setiap hari. Arfian sangat menyayangiku. Tapi, aku tak pernah membayangkan dia meninggalkan aku begitu saja. Dia tak pernah memberitahu alasannya meninggalkanku. Dia pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun. Sangat pahit rasanya. Hatiku terasa hancur. Aku hanya bisa menangis meratapi nasib. Mungkin ini sudah nasibku. Kebahagiaan selalu menjauh dan tak pernah mengendap selamanya dalam kehidupanku. Apa kau mengerti perasaanku, Amora?” Amora mencium pipi Reisya. Berharap bisa menghapus luka dalam hatinya. Reysa berusaha tersenyum, walau seperti dipaksakan.

          “Terima kasih, Amora. Tolong sampaikan padanya, kalau seorang gadis bernama Reisya Pradipta akan selalu mencintainya sampai kapanpun. Tak terbatas ruang dan waktu. Berjanjilah padaku, Amora,” pinta Reisya.

Tak ada yang bisa dilakukan Amora selain mengabulkan permintaan terakhir Reisya. Hanya inilah yang bisa dia lakukan. Reisya tersenyum senang. Rasanya semua beban dalam hatinya telah menghilang. Andaikan sang maut menjemputnya sekarang, dia rela. Dia tidak akan menyesal.
                                                                       ********
       Matahari menampakkan dirinya malu-malu. Hari yang cerah untuk memulai kegiatan. Amora menguap, dia merasa kantuk masih menyerangnya. Angin menerpa tubuh mungilnya, dia menggigil kedinginan. Amora sibuk berfikir, apakah musim sudah berganti musim dingin? Entahlah, itu tak ada urusannya dengan makhluk peri seperti dirinya. Tugasnya hanya satu, menjaga dan melindungi Reisya. Amora mengepak-ngepakkan sayap mungilnya dan terbang ke tempat tidur Reisya.

             “Reisya, sudah saatnya kau buka matamu. Lihatlah hari yang cerah ini, sangat menggoda mata kita untuk memandangnya,” kata Amora sembari menyibak selimut Reisya.

         Biasanya, Reisya paling benci ada orang yang menyingkap selimutnya sembarangan. Itu akan merusak mood ceria Reisya di pagi hari. Tapi kali ini Amora merasa heran. Reisya sama sekali tidak bergerak sekedar untuk menutupkan selimut ke tubuhnya. Bahkan suara gerutuannya tak terdengar sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi? Perlahan Amora mendekati hidung Reisya. Tak ada nafas yang keluar dari hidungnya sedikitpun. Amora tersentak dan mundur ke belakang. Dia memandang tubuh Reisya yang tak bernyawa lagi. Butir-butir air mata tak bisa dibendung lagi untuk keluar dari mata peri kecil itu.

        “Selamat tinggal, Reisya. Bagiku, kau adalah gadis yang sangat kuat dan tangguh. Aku akan selalu mengenangmu dalam ingatan. Pesan terakhirmu pasti akan aku sampaikan.” Amora mengucapkan kata-kata perpisahan dengan perasaan sedih. Di tangannya yang kecil terlipat sebuah surat untuk Arfian.
                                                            ******
         Hari pemakaman seorang gadis bernama Reisya Pradipta penuh dengan isakan tangis di mana-mana. Pemakaman di tengah-tengah guyuran hujan membuat suasana semakin duka. Nisan di atas tanah yang masih merah itu seolah-olah ingin menguatkan hati untuk selalu tersenyum. Ya, Reisya paling benci ada tangis dalam pemakamannya. Dia ingin semua merelakannya dengan ikhlas. Apalah artinya hidup kalau tak ada kematian. Apalah artinya memiliki kalau tak ada kehilangan. Reisya ingin semua orang mengenang dirinya dalam ingatan. Cukup dalam ingatan, dan tanpa airmata.

        Dalam pemakaman itu hadir seorang laki-laki yang selalu dipandangi Reisya diam-diam. Ya, laki-laki itu Arfian. Amora terbang merendah di dekat telinga sahabat Reisya, Imai.

             “Imai, aku bisa minta tolong?” tanya Amora pelan. Imai menoleh dan mengangguk.

             “Apa kau bisa berikan surat ini untuk seorang laki-laki yang ada di sana?” Amora menunjuk sosok laki-laki di barisan belakang. Imai mengernyit dan dia menemukan laki-laki yang dimaksud Amora.

             “Iya, aku bisa,” kata Imai. Amora bernafas lega. Diberikannya sepucuk surat berwarna biru laut itu ke tangan Imai.

       Imai menerimanya, dia segera menyelinap di antara barisan orang-orang yang melayat. Akhirnya dengan susah payah Imai sampai di hadapan Arfian. Tanpa berkata apapun Imai mengulurkan surat itu. Arfian mengernyit bingung. Ditatapnya surat itu dan Imai bergantian.

              “Bacalah! Kau akan mengerti sendiri.” Imai berkata dengan tenang. Arfian mengangguk.

        Imai meninggalkan Arfian sendirian. Dengan tergesa-gesa Arfian merobek amplop surat itu, dan segera dibacanya barisan kata-kata yang teruntai dalam surat itu.

“Dear, Arfian. Mungkin saat kau baca surat ini, aku sudah tak ada di dunia ini. Aku hanya ingin menyampaikan satu ucapan yang telah kubawa sampai mati. Aku cinta kamu, Arfian. Apa kau masih ingat aku? Seorang gadis bernama Reisya Pradipta, seorang yang biasa saja yang pernah jadi kekasihmu. Perlu kau tahu, sampai saat ini aku masih mencintaimu. Tapi maut kini memisahkan kita. Selama ini aku selalu memandangimu dari jendela kamarku. Walau tak bisa menyapamu, aku sudah cukup senang dengan melihat wajahmu setiap hari. Aku hanya minta satu hal, tolong jangan lupakan aku. Ingatlah tentang diriku dalam kenanganmu. Akan sangat menyakitkan bagiku, kalau kau melupakan diriku. Sekali lagi, aku cinta kamu, Arfian.'"
                                                                      Salam cinta dariku,
Reisya Pradipta

         Arfian menangis setelah membaca surat itu. Kesedihannya tak bisa dibendung lagi. Sungguh, dia sangat kehilangan sosok Reisya yang ceria. Dia menutup wajahnya dan menangis dalam diam.
        Ingatannya kembali ke masa lalu. Saat itu adalah saat terindah bagi dirinya juga bagi Reisya. Di mata Arfian, Reisya adalah sosok gadis yang sederhana, lembut dan tampil apa adanya. Arfian sangat mencintainya. Baru kali ini dia mencintai seorang gadis sampai sedalam ini. Tapi, nasib memang tidak bisa diduga. Orang tuanya meminta dirinya memutuskan jalinan kasihnya dengan Reisya. Dia dijodohkan dengan teman relasi bisnis papanya. Ingin Arfian menolak perjodohan itu, tapi mengingat penyakit jantung yang diderita papanya membuat nyali Arfian menciut. Dia tak akan memaafkan dirinya sendiri kalau terjadi sesuatu pada papanya karena penolakannya pada rencana perjodohan itu. Akhirnya dia memutuskan hubungannya dengan Reisya begitu saja tanpa penjelasan apapun. Arfian tak ingin melukai perasaan Reisya, dan satu hal lagi yang membuat dia tak sanggup memberitahu alasan dirinya mengakhiri jalinan kasih di antara mereka, Arfian masih mencintai Reisya. Dan perasaan itu tak akan hilang sampai kapanpun. Walau dia tak bisa memiliki Reisya sekalipun. Bukankah cinta tak harus memiliki?
         Dari kejauhan Amora memandanginya dengan tersenyum. Kemudian pandangan Amora beralih ke nisan Reisya.

              “Cintamu yang sangat besar telah sampai di hati Arfian, Reisya. Semoga kau merasa tenang di sana. Dan teruslah tersenyum seperti Reisya yang selama ini kukenal. Selamat jalan, Reisya,” bisik Amora pelan.

         Perlahan Amora mengepak-ngepakkan sayapnya yang mungil terbang ke udara. Dia harus kembali ke dunia peri, karena tugasnya sebagai peri pelindung Reisya telah selesai. Dia akan menunggu tugas menjadi peri pelindung untuk orang lain. Tapi bagi Amora, menjadi peri pelindung Reisya adalah hal yang sangat berkesan di hatinya. Sampai kapanpun kenangan akan seorang gadis bernama Reisya Pradipta tak akan hilang dari hatinya. Amora menatap makam Reisya yang semakin jauh dari pandangan matanya. Dia terbang ke atas, dengan berlinang airmata.

                                                                                        _TAMAT_

MY CERPEN 2 (SPONTAN)









PENCURI HATI


Aku terpana sejenak saat menatap matanya yang kecoklatan. Ah, pandangan yang teduh dan membuat hatiku berdesir aneh. Jantung mulai berdetak kencang, wajahku seketika memerah karena malu. Ada apa ini? Kenapa aku jadi aneh seperti ini? Tuhan ... beri aku jawaban akan kegelisahan ini.



     "Misya, kamu ngapain dari tadi di situ?" tegur seseorang di belakangku. Aku tersentak kaget dan menoleh. Ternyata Kikio, sahabatku yang paling akrab. Aku tersenyum malu.

     "Nggak ada apa-apa kok, Ki. Hmm, kamu tau nggak cowok yang di sana itu siapa?" tanyaku sambil menunjuk seseorang. Kikio mengikuti arah tanganku yang menunjuk sosok di kejauhan.

     "Yang mana?" balik tanya Kikio bingung. Kikio menangkupkan telapak tanggannya di atas matanya agar pandangannya tak terhalang cahaya matahari.

     "Yang di sana itu lho, Ki ..." jelasku lagi. Kikio mempertajam pandangan matanya.

     "Oh ... yang itu tho. Hmm, kalau nggak salah itu cowok pindahan deh. Baru kali ini aku lihat dia. Eh, dia main basketnya jago banget ya? Keren ..." puji Kikio terkesima. Aku mengangguk membenarkan. Sambil sesekali mataku melirik ke arah laki-laki itu.

     "Siapa kau sebenarnya, hay pencuri hati ...?" tanyaku dalam hati.



 Laki-laki itu kembali beraksi dengan dribble bolanya. Sesekali dia memasukkan three point, bahkan dia juga melakukan slam dunk. Aku spontan bertepuk tangan saat dia kembali memasukkan bola ke dalam ring dengan begitu anggun. Kikio menyenggol bahuku pelan.



    "Cowok itu memperhatikan kamu tuh ..." kata Kikio. Aku melongo mendengar ucapan Kikio, dan mataku mulai menangkap sosoknya yang mendekat. Mendadak aku menjadi gugup.

    "Makasih tepukan tangannya. Oh ya, aku Rifky, kalian siapa?" kata laki-laki itu sambil tersenyum lembut.

    "Hay, Rif. Aku Kikio, kalau yang ini sahabatku, Misya. Kamu siswa baru ya?" tanya Kikio. Rifky mengangguk dan lagi-lagi tersenyum. Ah, tolong jangan tersenyum seperti itu. Apa kau tahu kalau senyumanmu itu telah membuatku terpana?

    "Ya udah, aku ke sana dulu ya. Senang kenalan dengan kalian. Bye ..." pamit Rifky. Aku mengangguk kaku, sedangkan Kikio melambaikan tangan dengan heboh.

                                                                  *****



    "Aku sepertinya jatuh cinta deh sama Rifky," kata Kikio tiba-tiba keesokan harinya. Aku mengernyitkan alis. Sedikit tersentak dengan kata-kata Kikio.

    "Gitu ya ...?" responku sedikit menggantung.

    "Kamu sendiri gimana, Mis?" tanya Kikio menoleh menatapku. Aku tergagap saat Kikio menanyakan hal itu.

    "Aku ... aku ..." aku bingung harus menjawab apa.

    "Kalau kamu juga suka dia, gimana kalau kita saingan secara sehat?" tantang Kikio bersemangat. Aku mendegut ludah pelan.

    "Aku ..." kata-kataku terputus tanpa bisa aku lanjutkan.

    "Oke, deal kalau begitu!" putus Kikio akhirnya.

    "Jangan ada yang menikung atau curang ya. Kita bersaing secara sehat. Hmm, seru nih kayaknya," kata Kikio senang.



Aku hanya bisa menunduk dalam diam. Mulutku membisu, tak sanggup berkata apapun. Bersaing? Dengan Kikio? Jelas aku yang akan kalah. Aku tahu dengan sangat jelas pesona Kikio.

                                                ******



Tiga minggu sudah persaingan kami dimulai. Dan selama itu hanya Kikio yang sangat aktif mendekati Rifky, sedangkan aku hanya bisa menatap di kejauhan.



   "Hahahaha ... Mis, kamu pasti kaget dengar kabar ini. Rifky nolak aku. Dan kamu tau siapa yang dia sukai?" tanya Kikio sambil terisak pelan.

   "Aku nggak ngerti maksud kamu, Ki. Kenapa kamu mesti laporan ke aku?" tanyaku tak mengerti. Kikio memandangku tajam.

   "Karena yang dicintai Rifky adalah kamu, Mis ...!" teriak Kikio marah. Aku tercekat.

   "Aku?" tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.

   "Iya, kamu, Mis! Kenapa selalu kamu sih, Mis? Dulu juga begitu. Kenapa hanya kamu yang dilihat semua cowok? Lalu aku ini apa? Kenapa kamu nggak menghilang saja dari dunia ini, Mis? Kenapa?" teriak Kikio histeris. Aku terdiam mendengar sumpah serapah Kikio.



Selesai menumpahkan amarahnya Kikio pergi meninggalkanku dengan keadaan emosi. Aku tercengang dan masih belum bisa berkata apapun.

                                                         ******



Sekarang aku berdiri di sini. Di hutan terlarang belakang sekolah. Pikiranku kacau, dan hanya tempat ini yang bisa membuatku tenang. Perlahan aku melangkahkan kaki menuju ke dalam hutan. Kegelapan seketika menyergapku, aku mengerjap-ngerjapkan mataku, berusaha menyesuaikan diri dengan kegelapan. Dan hal itu akhirnya berhasil.



     "Kau datang ke sini, Mis?" sapa seseorang di kegelapan. Aku tak perlu melihat dengan jelas siapa itu yang menyapaku. Dengan mendengar suaranya, aku tahu siapa dia.

     "Aku kesepian ..." kataku pelan nyaris tak terdengar.

     "Apa kamu mau bersamaku di sini, Mis? Kau sudah siap?" tanya suara itu lagi. Aku mengangguk perlahan.

     "Aku akan bersamamu di sini, Key. Sekarang lakukanlah!" perintahku tanpa ragu.

     "Kau serius, Mis?" tanya Key tak percaya. Aku menganggukkan kepalaku kuat-kuat.

     "Aku serius. Aku lebih baik menjadi vampire dalam hutan ini, daripada menelan begitu banyak penderitaan di luar. Aku nggak kuat lagi, Key. Aku capek ..." kataku sambil terisak.

     "Baiklah. Kalau itu maumu. Kebetulan nanti malam adalah bulan purnama, sangat cocok untuk upacara ini," kata Key menyeringai.

                                                          *****



Malam bulan purnama, saat yang aku tunggu akhirnya tiba. Aku terbaring di atas meja batu persembahan. Key sudah siap dengan persiapan upacara ini. Dan tentu saja Key sudah menyiapkan darahnya dalam secangkir gelas. Darah vampire adalah racun bagi tubuh manusia. Tapi kalau darah itu diminum saat upaca diadakan, otomatis darah itu akan merubah tubuh manusia menjadi vampire. Key menolak saat aku memintanya untuk menggigitku saja. Key bukan vampire sekejam itu. Di hutan ini Key sendirian, dia kesepian. Saat bertemu denganku empat bulan yang lalu, Key sudah tertarik padaku. Tapi saat itu aku masih belum ada keinginan untuk bermutasi menjadi vampire. Dan saat ini keinginan itu muncul.



Key mengatur beberapa jenis bunga di sekeliling tempatku berbaring, dan saat bulan purnama menerpa wajahku, Key membacakan beberapa mantra. Mata Key terpejam rapat dan sangat serius. Angin tiba-tiba datang menerjang. Suara hewan di hutan mulai menghilang. Sekarang suasana sangat hening dan terasa aneh. Tiba-tiba Key membuka mata dan mengambil secangkir darahnya. Disodorkannya darah itu ke arahku. Aku menerimanya sambil mendegut ludah.



    "Minumlah dalam sekali teguk!" perintah Key. Aku mengangguk. Aku mendekatkan cangkir itu ke mulutku dan meneguk isinya dalam sekali teguk.

          Prangg ...!

Cangkir itu terjatuh dari tanganku. Mataku melotot. Aku memegang leherku yang terasa panas dan mencekik. Sangat panas hingga ingin mati rasanya.



    "Arrghh ...!" jeritku kuat-kuat. Key kembali duduk bersila dan membacakan beberapa mantra aneh.



Dalam sekejap mataku mulai terasa berat dan aku mulai tertidur.

                                               ******



Saat aku membuka mataku, Key tersenyum menyeringai di sebelahku. Aku mencoba duduk dan aku merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan diriku. Key mengangsurkan sebuah cermin ke arahku.



    "Lihatlah dirimu sekarang!" perintahnya. Aku mengambil cermin itu dan menatap bayanganku dalam cermin. Untuk seketika aku terpana melihat sosok dalam cermin. Seorang wanita yang sangat cantik dengan mata kuning keemasan.Kulit pucat dan bercahaya terkena cahaya matahari. Bibir yang merah dan seakan haus darah. Inikah aku?

    "Selamat datang Misya. Vampire kekasihku ..." ucap Key tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Aku meraih tangan Key dengan senyum.

    "Selamat datang Misya yang baru," jawabku yang tentu saja aku tujukan buat diriku sendiri.

    "Kau pasti haus, Mis. Mari kita berburu untuk mengobati rasa hausmu. Hitung-hitung ini perburuan pertamamu," ajak Key. Aku mengangguk setuju.

    "Ayo ..." kataku.



Aku dan Key segera melesat dengan kecepatan super untuk mencari buruan pertama kami. Sebagai santapan untuk makan pagi kami. Aku sekarang bukan Misya yang lemah dan dicintai beberapa laki-laki dari kalangan manusia. Aku sekarang Misya, si vampire wanita, pasangan Key. Dan tentu saja ditakuti oleh kalangan manusia.



     "Mangsa!!" teriak kami bersamaan saat melihat seekor rusa. Dengan cepat aku menerkam rusa itu dan segera mengoyaknya dengan taringku. Darah yang segar segera kuminum dengan tak sabar.



Kehidupan baru sebagai vampire baru saja aku mulai.







                                                                       THE END

MY CERPEN 1 (SPONTAN)






FIRST LOVE AND TEARS


Aku memandangi sosoknya di kejauhan. Tak sengaja bibirku tersenyum melihatnya. Riko, nama cowok itu. Dia ketua kelas di kelasku, kelas 2 E. Mungkin semua bilang aku aneh, kalau cinta kenapa tak diungkapkan? Mau sampai kapan terus memendam perasaan itu? Aku cuma tersenyum menanggapinya.

           “Apa sih istimewanya sosok Riko, De?” tanya Sisca, sahabat baikku. Aku memandangnya dan tersenyum.

           “Entahlah… aku juga nggak tau. Menurutku dia itu unik, lucu, baik lagi,” kataku sambil memandang sosok Riko di kejauhan. Sisca berdehem menggodaku.

           “Cieee … yang lagi jatuh cinta. Tapi emang si Riko itu lumayan keren, sayangnya dia bukan tipeku, hahaha …” Sisca tertawa. Aku cuma tersenyum.

           “Untunglah Sisca tipenya beda sama aku, kalau sampai sama, aku pasti kalah deh … hufftt,” gumamku dalam hati.

        Riko, dia cowok yang sempurna banget, cakep, tinggi, pintar di segala bidang pelajaran, humoris, ramah lagi. Siapa sih cewek yang nggak menyukainya? Bisa dibilang, dia cinta pertamaku. Aku sendiri heran kenapa aku bisa jatuh cinta sama dia. Padahal dulu aku benci banget sama Riko.

         Tapi semakin lama aku sering memperhatikannya. Gerak-geriknya, suaranya, bahkan gayanya, aku sudah hafal di luar kepala. Satu hal yang paling aku kagumi dari dia adalah nggak sombong, padahal dia dari keluarga kaya.



                                                                        *****



             “Gila … Rik, kenapa sih kamu nggak bawa motor atau mobil gitu? Lumayan, kita bisa numpang.” Terry mengedip genit ke arah Riko.

         Riko hanya tersenyum. Dia meletakkan bukunya di atas meja dan memandang Terry dan Nisa.

             “Tapi itu bukan punyaku. Mobil atau motor itu punya orang tuaku.” Riko menjawab kalem.

             “Kamu itu terlalu sederhana, Rik, padahal kamu anak orang kaya gitu.” Nisa menggelengkan kepalanya tak mengerti.

             “Apa gunanya aku pamer kalau itu bukan milikku sendiri? Hey, kita ini masih SMP lho, nggak usah gaya-gaya gitu.” Riko tersenyum.

         Terry dan Nisa langsung terdiam. Mereka nggak bisa membantah perkataan Riko lagi. Aku yang duduk di kursi pojok depan, tersenyum senang mrndengar komentar Riko. Wajahku jadi merona merah saat aku menatap Riko diam-diam.

           “Karena itulah aku jatuh cinta sama kamu, Riko, di mataku, kamu itu cowok idaman aku banget. Ah … sayangnya aku nggak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku ke kamu. I love you, Rik.”

        Aku tertunduk sedih, dan perlahan airmataku mengalir begitu saja di pipiku. Aku menghapusnya dan kembali focus dengan buku yang aku baca.




                                                                         *****


        Siang yang terik, membuatku malas untuk jalan kaki ke rumah. Rumahku cukup jauh dari sekolah. Benar-benar menyebalkan. Aku nggak punya kendaraan semacam sepeda mini untuk aku kendarai. Berkali-kali peluh keringat aku hapus dari keningku. Debu jalanan sering membuatku terbatuk. Buru-buru aku mencari jalan yang tak terkena debu. Maklum, aku punya penyakit asma. Kalau sudah kambuh, sering membuatku kesakitan sampai mau mati rasanya.

          “Dea, kamu nggak dijemput?” sapa seseorang di belakangku. Aku menoleh, dan tersentak kaget melihat siapa yang menyapaku. Riko! Aku jadi gugup.

          “Ah, iya … mereka ada urusan mendadak, jadi aku pulang sendiri hari ini,” kataku gugup. Riko mengangguk-angguk mengerti. Dia tersenyum, manis sekali. Aku sampai bengong karena terlalu terpesona. Sumpah! Cowok ini keren banget.

          “Kebetulan arah rumah kita searah, kan? Gimana kalau kamu bareng aku aja?” tawarnya ringan.

        Degg! Jantungku langsung berhenti berdetak. Apa ini nggak Salah? Riko mengajakku pulang bareng? Tuhan … aku bisa pingsan nih ...
         “Gimana, De?” tanya Riko sekali lagi. Aku mengangguk pelan sekali, seolah ragu.

        Riko tersenyum, dia menyuruhku naik sepeda mini-nya. Aku naik di boncengan belakang dengan jantung yang terus berdetak kencang.



                                                                          *****



         “Kamu … nggak mau masuk dulu?” tanyaku ragu. Riko menggeleng, dia tersenyum.

        “Nggak usah, makasih, aku lagi buru-buru nih …”

        “Hmm, terima kasih ya udah dianterin,” kataku dengan wajah malu. Riko mengangguk.

        “Sama-sama, aku pulang dulu ya …” pamitnya. Dia mengendarai sepeda mini dengan gerakan buru-buru. Aku tersenyum memandang punggungnya yang semakin menjauh.

       “Tuhan, apa ini hari keberuntunganku? Terima kasih, Tuhan …” aku tersenyum dan menuju kamarku.

       Aku duduk di meja rias sambil memandangi sosok diriku di dalam cermin. Senyum tak pernah lepas dari bibir mungilku. Aku mengambil sebuah buku, lebih tepatnya Buku Diary. Kubuka halaman yang kosong, dengan cepat aku meraih bolpoint dan segera kutuliskan sebuah kata-kata.



                      Dear my lovely,

                   Cinta tak akan berpaling dari kelopak mataku

                   Embun suci yang kau torehkan dalam hati yang remaja membuatku terpaut

                   Wahai siang, aku ungkapkan rasa ini padamu

                  Debu dan keringat berpeluh yang menjadi kisahku

                    Apa ini?

                    Hatiku terasa sakit oleh debaran manisnya

                   Duhai cinta, kau membuatku tersihir dan menjadi gila

                   Ingin kuraih hatimu, tapi aku tak mampu

                  Hati… hanya kau-lah yang tahu tentang ini



       Aku tersenyum membaca barisan puisi yang kutulis. Dalam bayanganku kembali terlintas kembali kejadian tadi. Tuhan, senang sekali hatiku.



                                                                    *****



      Hari ini aku berangkat sekolah lebih awal. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepada Riko. Tapi sesampainya di sekolah, aku melihat semua teman-teman sekolahku banjir airmata. Ada apa ini? Aku bingung dan menghampiri kerumunan itu.

     Terry dan Nisa terisak di depan kelas. Aku menghampirinya dan kutepuk pelan bahu Terry. Mereka menoleh ke arahku dengan masih terisak.

        “Ada apa ini?” tanyaku. Mereka kembali menangis keras. Aku termenung, bingung dengan ini semua.

     Sisca menghampiriku dengan mata sembab. Dia menepuk bahuku, dan memelukku dengan erat. Aku memeluk Sisca dengan bingung.

        “Sis, ada apa sih ini?” tanyaku.

        “Kamu pasti nggak percaya dengar kabar ini, De …” Sisca terisak sebentar.

        “Ada apa, Sis?” tanyaku penasaran.

     Sisca melepaskan pelukannya dan memandangku dengan tatapan sendu.

        “Riko, De … Riko ...!” teriaknya histeris. Aku bertambah bingung dan gelisah. Ada apa dengan Riko? Apa yang terjadi padanya? Aku menatap tajam mata Sisca.

        “Ada apa dengan Riko, Sis … jawab!” teriakku kalut sambil mengguncang-guncangkan bahu Sisca tak sabar.

        “Riko … dia … dia mengalami kecelakaan kemarin siang, De, langsung meninggal di tempat.” Sisca kembali terisak.

      Aku tercekat tak percaya, badanku mundur ke belakang karena syok. Perlahan airmataku turun membasahi pipiku. Airmata duka untuk seorang cowok yang menetap di hatiku, menghiasi mimpi-mimpiku dan selalu menjadi pujaanku dalam diam.

        “Tuhan … Riko!” aku berteriak histeris dan jatuh pingsan.



                                                                      *****



      Saat aku membuka mataku, kulihat Sisca yang masih terlihat murung. Aku mencoba bangun walau kepalaku terasa pening yang amat sangat.

        “De, kamu udah sadar?” tanya Sisca. Aku mengangguk lemah, mataku masih sembab. Wajahku tertunduk.

        “Padahal kemarin aku masih bersamanya, Sis … aku masih melihat senyumnya. Aku masih mendengar suaranya, aku masih …” aku tak kuasa menahan airmata yang mulai menyembul keluar. Sisca memelukku dan membelai rambutku.

        “Kita semua juga nggak nyangka seperti ini, De, kematian itu di tangan Tuhan. Kita nggak akan tau kapan maut menjemput kita, sabar ya …”



                                                                           ******



        Siang itu dilakukan pemakaman untuk Riko. Aku berdiri di samping tanah merah itu. Mataku terasa panas dan kepalaku terasa pening. Aku menyesal sampai akhir-pun aku belum sanggup menyatakan perasaanku ke Riko. Sekarang cintaku akan kemana? Apa harus kukubur juga?

        Satu-persatu mereka meninggalkan makam ini. Tapi aku masih tetap di sini. Memandangi nisan Riko dengan perasaan sedih. Aku berlutut dan menyentuh nisan Riko.

         “Rik, andai kamu tau perasaanku ke kamu, apa sekarang kamu masih ada di dunia ini? Riko, aku sayang kamu. Aku cinta banget sama kamu …” aku menangis terisak. Aku nggak rela melepaskan Riko yang sudah meninggal.

       Aku merasakan sebuah tepukan lembut di bahuku. Aku menoleh dengan mata sembab. Ternyata Mama Riko. Beliau tersenyum memandangku. Aku berdiri dan menatap Mama Riko dengan bingung.

        “Ada titipan dari Riko buat kamu, Dea,” kata Mama Riko. Dia mengulurkan sebuah surat dan setangkai mawar merah.

       “Apa ini, Tante?” tanyaku bingung.

       “Bacalah surat itu, kamu akan mengerti. Tante pergi dulu ya …” Mama Riko meninggalkanku sendiri.

     Karena penasaran aku buka surat itu dan segera kubaca.



                Dear Dea,

           Apa kau tau arti mata indahmu itu? Apa kau tau matamu itu-lah yang membuatku jatuh cint? Mungkin kamu nggak percaya, tapi inilah yang kurasakan. Setiap hari dengan memandangmu, itu memberi semangat tersendiri bagiku. Kalau aku tak melihatmu sehari aja, mungkin hari itu kulewati dengan tubuh yang lemas tanpa energi. Kamu adalah matahari bagiku. Dea, i love you …



      Aku tercekat tak percaya. Kupandangi nisan Riko dengan tatapan nanar. Tangisku mulai pecah saat itu. Aku mencium sekuntum mawar merah pemberian Riko. Mawar merah terakhir yang penuh cinta.



                                                             TAMAT